Mentri Jonan Lagi Naik Kereta, Ehh Ada Yang Lempar Batu
Jakarta - Pelemparan jendela kereta api terjadi saat Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, melakukan perjalanan ke Surabaya menggunakan KA Argo Anggrek dari Semarang. Jonan pun menilai pelakunya kurang waras karena tidak menghargai keselamatan penumpang.
"Pelempar Kereta Api itu kurang waras!" tegas Jonan saat berincang dengan detikcom, Kamis (23/7/2015).
Pelemparan terjadi setelah kereta melewati stasiun Brumbung. Batu yang cukup besar mengenai jendela kaca gerbong 8 tepatnya seat 7A-7B, tidak jauh dari tempat duduk Jonan di seat 8D. Jendela itu langsung retak, mengagetkan penumpang yang duduk di seat 7A, Solehatul Marifah.
Jonan menilai pelempar kurang waras karena sama sekali tidak memikirkan keselamatan penumpang dan akibatnya. Dan yang disayangkan, sebagian besar pelakunya justru anak-anak yang hanya iseng melempar untuk adu tepat sasaran.
"Mereka itu tujuannya apa? Kayak kurang waras saja. Tidak ada tujuan, cuma iseng saja," ujarnya.
Berbagai upaya sejak dirinya menjabat sebagai Dirut PT KAI sudah dilakukan untuk mengatasi gangguan tersebut. Namun hingga kini pelemparan masih terjadi di sejumlah daerah.
"Sejak zaman saya (menjabat Dirut KAI) sudah ada upaya. Kalau pelakunya dewasa ya ditindak karena melakukan pengerusakan, kalau anak-anak, kita panggil orang tuanya. Ini kaca juga didesain meminimalisir luka dari manusia," pungkas Jonan.
Sementara itu Dirut PT KAI, Edi Sukmoro mengatakan pelaku pelemparan memang kebanyakan anak kecil. Di beberapa daerah sudah dilakukan penindakan dan memanggil para orang tua pelaku.
"Di beberapa daerah sudah ditindak, orang tua pelaku dipanggil dan menandatangani perjanjian. Kita juga terus melakukan sosialisasi," tandasnya.
Aksi pelemparan dan gangguan lainnya menurut Edi memang harus segera disudahi. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemegang wilayah termasuk kepolisian. Sosialisasi juga dilakukan termasuk memetakan daerah rawan pelemparan.
"Ada 50 titik rawan. Rawan pelemparan, asongan masuk, dan tanda kutip sabotase. Ini harus disudahi," tegas Edi.
(sumber)
